Laju kereta yang terus menembus gelapnya malam tak berujung, membawaku ke sebuah pelarian. Bayangan dirinya kembali menyergapku.
Seminggu sebelum dia meninggalkanku.
Malam itu, dia seperti malam-malam sebelumnya, terus saja merintih kesakitan sambil memegang perutnya erat.
Sampai menjelang tengah malam pun, Lukman tak juga bisa tidur. Aku hanya bisa terisak diam-diam tanpa bisa berbuat apa-apa. Aku tahu, kanker itu telah membuatnya menderita selama setaun ini, tapi aku masih belum siap untuk kehilangan dia.
Tak ku sangka, inilah malam yang membuat kami terpisah ntuk selamanya...