Jumat, 29 Juni 2012

that night

Tiba-tiba kesadaranku seperti terenggut, ak terkesiap.
Laju kereta yang terus menembus gelapnya malam tak berujung, membawaku ke sebuah pelarian. Bayangan dirinya kembali menyergapku.
Seminggu sebelum dia meninggalkanku.

Malam itu, dia seperti malam-malam sebelumnya, terus saja merintih kesakitan sambil memegang perutnya erat.
Sampai menjelang tengah malam pun, Lukman tak juga bisa tidur. Aku hanya bisa terisak diam-diam tanpa bisa berbuat apa-apa. Aku tahu, kanker itu telah membuatnya menderita selama setaun ini, tapi aku masih belum siap untuk kehilangan dia.

Tak ku sangka, inilah malam yang membuat kami terpisah ntuk selamanya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar